Tampilkan postingan dengan label Ibroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibroh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2012

TERBUKANYA PINTU HIDAYAH LEWAT PUTRIKU


CERITA YANG MENGHARUKAN

Tidak Baik Bagimu Wahai Ayahku..Bertakwalah Kepada Allah…

Yaqthan Madinatur Riyadh menjalani hidup dengan hura-hura tanpa makna, hanya sedikit sekali mengenal Allah. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah masuk masjid, bahkan tidak pernah bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala walau sekali. Ternyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak membukakan pintu taubat di hatinya melalui putri mungilnya.

Ia bercerita, “Aku biasa begadang bersama teman-teman sampai pagi. Sepanjang malam kuhabiskan untuk hura-hura dan bermain. Kutinggalkan istriku yang malang dihinggapi kesendirian, penderitaan, dan dera siksa. Hanya Allah-lah Yang Mahatahu. Istriku yang saleh sudah tidak bisa berbuat apa-apa kepadaku. Pernah ia berusaha menasihati dan menegurku, tetapi sia-sia.

Pada suatu malam, aku pulang dari begadang. Jarum jam menunjukkan angka tiga pagi. Melihat istri dan anakku yang tidur lelap, aku langsung menuju kamar sebelah untuk menghabiskan sisa malam dengan menonton video mesum. Padahal, pada jam-jam seperti itu Allah Subhanahu wa Ta’ala turun dan berfirman, ‘Adakah

yang berdoa supaya kuistijabah? Adakah yang beristighfar agar kuampuni? Dan, adakah yang meminta sesuatu supaya kupenuhi?’

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Petri mungilku yang belum genap lima tahun memandangiku heran dan hina. Sebaris kalimat meluncur dari bibirnya, ‘Tidak baik bagimu, ayahku, bertakwalah kepada Allah.’ Kalimat itu ia ulangi tiga kali, lalu daun pintu kembali ditutup lagi. Setelah itu, ia pergi. Aku bingung. Segera kumatikan video, kemudian duduk kebingungan. Kata-kata putriku masih terus terngiang-ngiang di telingaku hingga hampir membunuhku. Aku keluar mengikuti jejak putriku, ternyata ia telah kembali ke tempat tidur. Aku seperti gila, tak tahu apa yang sedang menimpaku saat itu. Tidak lama kemudian, suara muadzin menggema di masjid dekat rumahku, memacahkan keheningan malam yang mena­kutkan. Suara itu memanggil umat manusia untuk shalat fajar. Akhirnya, aku pun berwudhu’ dan berangkat ke masjid. Sejatinya, aku tidak begitu ingin shalat. Tetapi, kata-kata putriku mengusik ketenanganku.

Shalat subuh didirikan. Sang imam menguman­dangkan takbir, kemudian membaca ayat Al-Qur’an. Ketika ia sujud, dan aku juga ikut sujud di belakangnya, kuletakkan keningku di atas hamparan bumi, tangisanku pecah seketika. Aku tidak tahu apa sebabnya. Inilah pertama kali aku bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak tujuh tahun yang silam.

Tangisan itu membuka pintu kebaikan untukku. Seluruh kekafiran, kemunafikan, dan keburukan yang menodai hatiku keluar bersama tangisan itu. Semenjak itu, aku mulai merasakan arus keimanan menjalari sanubariku. Sehabis shalat, aku duduk sejenak, kemudian kembali ke rumah. Aku tidak tidur sampai berangkat kerja. Setibanya di kantor, temanku merasa aneh melihatku datang pagi. Biasanya, karena begadang, aku selalu datang terlambat. Ditanya mengapa datang pagi, kuceritakan pada temanku seluruh peristiwa yang kualami tadi malam. Temanku bilang, ‘Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengirim putri mungilmu untuk menyadarkanmu dari kelalaianmu. Beruntung Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengutus malaikat maut untuk mencabut nyawamu pada saat itu.’

Menjelang waktu Dzuhur, aku merasa capai, karena tidak memejamkan mata sekian lama. Kuminta temanku meneruskan pekerjaanku, dan aku bermaksud pulang untuk beristirahat. Di lubuk hatiku terpendam kerinduan membara untuk segera melihat putri mungilku. Dia telah menjadi penyebab terbukanya pintu hidayah bagiku, juga mengembalikan aku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. “

Lebih lanjut ia berkata, “Aku pun pulang ke rumah membawa kerinduan membara untuk segera bertemu putriku. Saat itu, kurasa kakiku bersaing dengan hembusan angin. Setibanya di rumah, tidak seperti biasa kulihat istriku berdiri di depan pintu. Di hadapanku ia berkata lantang, ‘Ke mana saja engkau?’ Kujawab, ‘Aku di tempat kerja.’ Ia bilang, ‘Kami telah berusaha menghubungimu berkali-kali, tetapi tidak ada. Di mana saja engkau?’ Kujawab, ‘Aku di masjid kantorku. Memangnya, apa yang terjadi? Mengapa engkau berdiri di depan pintu seperti ini?’

Istriku berkata lirih, Putrimu telah tiada.

Ia bilang, “Berita itu memukul telak jiwaku. Ta­ngisanku pecah seketika. Tidak ada yang ingat selain perkataan putriku, ‘Tidak baik bagimu, ayahku, ber­takwalah kepada Allah… Tidak baik bagimu, ayahku, bertakwalah kepada Allah.’

Aku menghubungi temanku. Kusampaikan padanya kalau anak yang telah mengeluarkanku dari kegelapan menuju benderang cahaya telah tiada.

Tidak lama kemudian, temanku datang. Aku masuk memandikan dan mengafani putriku. Orang-orang membawanya ke masjid untuk dishalati, kemudian dibawa ke kuburan. Temanku bilang, ‘Ambillah putrimu, dan kuburkanlah.’

Kuambil putriku, lalu kukuburkan. Kubilang pada or­ang-orang di sekitarku, ‘Demi Allah, aku tidak menguburkan putriku, melainkan cahaya yang menerangi jalanku kepada Allah. Anak ini telah membukakan pintu hidayah untukku. Aku berharap, semoga Allah mem­pertemukanku dengannya di surga.’

Orang-orang yang hadir di pemakaman ikut meneteskan air mata. Hati mereka hampir terputus karena menahan kesedihan yang mengharu biru atas kepergian anak kecil itu.

Begitulah saudaraku…

Tidak seorang pun tahu kapan malaikat maut datang menjemputnya. Kematian tidak mengenal besar dan kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya” (An-Nahl: 61).

Karena itu, segeralah kembali kepada Allah. Segeralah bertaubat dengan tulus. Semoga taubat yang tulus menjadi penutup usia, dan menjadi balasan terbaik di surga Yang Maha Pengasih. [Mawaqif Min Hayat Al-Anbiya', hlm. 123]

Sumber: Buku ”Kisah Orang-Orang Shaleh Dalam Mendidik Anak, Pustaka al Kautsar

Artikel: www.kisahislam.net

Sabtu, 28 Januari 2012

KISAH PENCULIKAN SEORANG GADIS SMP DI RIYADH



Kisah ini disampaikan seorang guru Qur'an Doktorah Raawiyah...

Sebelum mengakhiri pelajaran, seperti biasa beliau menyelipkan beberapa nasihat, tapi kali ini nasihatnya adalah kisah nyata yang terjadi di Riyadh.

"Yaa Akhwaat... Apa telah sampai berita kepada kalian tentang penculikan seorang gadis mutawasithah (SMP) Sepekan lalu?"

dan tidak ada satupun dari kami mengetahui berita tersebut.

Sabtu, 07 Januari 2012

ALLAH MELINDUNGI SEORANG GADIS KECIL DARI PEMERKOSAAN LEWAT HAFALAN QUR'ANNYA Sebut saja ia bernama Fatimah, seorang gadis kecil yang berusia 10 tahun dan diculik ketika acara pesta pernikahan berlangsung di sebuah aula di kota Jeddah pada malam hari. Kisah ini bermula ketika seorang pria datang mengetuk pintu aul...a, karena penjaga pintu sedang ke dalam membantu mempersiapkan makan malam. Fatimah membukakan pintunya karena menyangka pria itu adalah tamu undangan.

Selasa, 06 September 2011

Hadiah Besar bagi Anak Yang Berbakti Kepada Ayahnya

Dari Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya, dia berkata, “Di zaman dulu hiduplah seorang dari Bani Israil dengan empat orang anaknya. Suatu ketika dia jatuh sakit. Salah seorang dari mereka berkata kepada saudaranya, ”Kalian mau merawat ayah, padahal kalian tidak akan mendapatkan warisan dari ayah? Saya saja yang merawatnya. Biarlah saya tidak mendapatkan warisan.”  Maka si anak tersebut merawat ayahnya hingga meninggal, lalu menguburnya.

Minggu, 29 Mei 2011

Danau Maninjau


Mungkin.... Masih ada yang belum tahu tentang Danau maninjau.
Danau Maninjau merupakan sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Luas wilayah Maninjau diperkirakan 284 km persegi, terdiri dari daratan seluas 148,5 km persegi, perairan seluas 99,5 km persegi dan daerah resapan air berkisar 2-5 km. Dilihat dari puncak bukit, jalan raya yang melingkari Danau Maninjau kira-kira 47 km dengan pemandangan yang luar biasa.

Jumat, 11 Februari 2011

DESA YANG MUSNAH DI DIENG


Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung.


أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ
تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).

Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).

Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.

Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung.

Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:

“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″

Allah Maha Besar.

Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang maka akan melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan itu Anda mungkin akan heran melihat wanita-wanitanya banyak yang memakai jilbab panjang dan atau cadar. Memang sejak dulu masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, bertolak belakang dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan kemaksiatan. Ketika kajian triwulan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah Kabupaten Banjarnegara bertempat di Pakisan, maka masyarakat Pakisan berduyun-duyun ke masjid untuk mendengarkan kajian dari Ustadz Muhammad Umar As Sewed. Ya, hampir semua masyarakat Pakisan aktif mengikuti kajian.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber :
http://sunniy.wordpress.com/2007/12/01/desa-yang-m
http://rover.ebay.com/rover/1/711-52013-16445-3/4(Artikel 'Ilmiah Alusunnah Jakarta)
Menu Hari Ini Slideshow: Ummu’s trip from Jakarta, Jawa, Indonesia to Doha, Qatar was created by TripAdvisor. See another Doha slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.